h1

dunia imaji

    aku mulai terjaga
    di keheningan malam yang diam
    duduk..
    terpaku dalam bingkai jendela kehidupan
    ditemani rintik yang membasahi dedaunan di luar

    atau juga membasahi pelataran hati?
    entahlah..
    tak pernah tahu hal itu
    hanya yakin satu
    terjebak dalam kesemuan ego akan rasa
    atma lagi-lagi berontak
    merangkak dalam kebimbangan yang semu
    berteriak tanpa suara
    bertanya dalam kebisuan yang hampa
    malam jadi terasa panjang
    dan dingin beranjak menusuk
    berusaha mencari selimut untuk ruang hampa dalam jiwa
    namun dimana?
    entahlah..
    atau ada namun tak terasa?
    kebekuan bayu malam mencengkram ketidakberdayaan
    memeluk erat dalam kekokohan palsu
    tanda-tanda tanya terus mendesak
    menelanjangi seluruh pikiran
    aku hanya ingin berdiri tegak mendongak
    dari semua mimpi jelita
    yang selalu tersaji setiap hari
    ingin kembali
    melihat mentari menari di ufuk timur
    dan menikmati senja bersahaja
    atau ini justru bukan mimpi?
    sandiwara manusiakah?
    karya agung dari tangan seorang adam?
    atau sebuah drama hidup tanpa ujung kisah?
    entah..
    tak peduli dengan semua itu
    hanya ingin terjaga
    lalu berteriak
    namun mengapa bukan suara yang terdengar?
    malah ledakan pikiran dalam otak yang terus meronta
    hanya ingin menangis
    namun mengapa bukan hangat tetes air mata yang terasa?
    malah sesaknya paru-paru dalam setiap hembusan nafas
    pilu, sendu, dan ragu semua menyatu
    senyum itu masih tersungging
    getir dalam keraguan
    juga dalam samar
    bagaimana dan mengapa tak  sanggup terjawab
    bahkan berteman dengan logika pun
    belum mampu rasanya
    ini bukan tentang tegar
    tapi rapuh
    bahkan renta mendayu-dayu
    lorong-lorong kesunyian terus menyiksa
    tanpa pernah tahu seperti apa langit esok
    anganku…anganmu
    jiwaku…jiwamu
    langkahku…langkahmu

    rasaku…rasamu
    raguku…ragumu
    cintaku…cintamu
    merahku…merahmu
    biruku…birumu
    piluku…pilumu
    mimpiku…mimpimu
    tegarku…tegarmu
    semuku…semumu
    sesakku…sesakmu
    teriakku…teriakmu
    tangisku…tangismu
    rapuhku…rapuhmu
    nafasku…nafasmu
    hampaku…hampamu
    senyumku…senyummu
    indahku…indahmu
    hidupku…hidupmu
    ceritaku…ceritamu
    sandiwaraku…sandiwaramu
    egoku…egomu
    sakitku…sakitmu
    detak jantungku…detak jantungmu
    rasaku…rasamu
    asaku…asamu
    ketidakberdayaanku…ketidakberdayaanmu
    akankah terjawab
    dalam sebuah ruang jiwa?
    entah kapan..
    malam ini..
    biarkan  sendiri
    biar bulir-bulir hujan yang temani
    hingga tetesnya basahi  ragu
    menghapusnya pelan dalam setiap celah asa
    trima kasih untukmu
    saat tiba sang waktu
    jangan coba kau sentuh lagi
    cukup abadikan saja
    apapun itu..
    karena aku
    sudah tentram
    dalam dunia imaji


    .lucia nancy.
    -d’ last day of september 2006-

13 comments

  1. Belom singkron antara jiwa dan raga… that what i feel..

    Raga dan Jiwa saling menyendiri dan belum bisa mengerti satu sama lain…

    Si jiwa hendak begini namun si Raga masih belum mengerti dan menuruti, begitu pula sebaliknya…

    …memang lebih indah menyendiri di kala hal itu terjadi…

    menangis, merenung, dan membebaskan baik jiwa dan raga, biarkan mereka mengembara sejenak di tengah keheningan dan kesendirian… di tengah kegelapan dan kerindangan… di tengah kesejukan dan kehampaan…

    Hingga mereka bisa memahami satu sama lain…
    karena dua-duanya adalah kita…

    sandiwara atau bukan, dua-duanya adalah kita…

    —————————dc


  2. ini puisi yah…keren juga,di publish dong lewat penerbit mana gituh…


  3. BERHENTI,
    jgnlah terus menangis,mengeluh,berkeluh kesah.
    PIKIRKAN
    apa yg sudah kita terima dan kita sia2kan.
    SYUKURI
    apa yg kita terima,apa yg kita alami,sesungguhnya ada makna dibalik semuanya..

    Face everything with smile
    just be thankful&greatful..


  4. heyya..
    hmm interpretasi orang akan tulisan ini pasti berbeda2..

    ini bukan tentang ketidaksinkronan antara jiwa & raga
    ini juga bukan tentang mengeluh dalam hidup

    tapi ini tentang kenyamanan & kejenuhan :)

    thanks for d comment by the way!


  5. atma apa ya?

    hahahaha


  6. weleh de’
    banyak interprestasi yang muncul di otakku saat membaca puisimu.
    dan dari comment2 yang aq baca banyak yang nyimpulkan kamu skeptis terhadap dirimu, namun ada pembantahan jawabmu pada comment terakhir ntah apkah itu hanya apologi agar teredam segala.

    hehehhe. cayyo lah


  7. ivanbatara> atma itu jiwa bang..

    hmm.. itu bukan pembatahan apalagi apologi
    kalo dibilang skeptis, iya, tapi bukan skeptis sama dir sendiri, lebih tepatnya sama orang2 yang pernah kupercaya..
    susah untuk percaya, tapi ketika sudah percaya dan disia2kan rasanya skeptis menjadi pilihan,
    atau terbentuk sendiri? entahlah..


  8. tes. do re mi.


  9. Penantian bak impian yang menunggu waktu
    sama seperti rahim bumi ini yang pasti akan meluap,
    membasahi setiap rongga rongga kesengsaraan.
    Tetap tertekan,panjang menjulai,tergulung dalam bingkisan
    pernik pengharapan.
    Dengarlah, dengar dentingan teriakan para pemuja cinta,
    untuk bangkit, menapak ke atas singgasananya.
    untuk menang atas diriu sendiri..


  10. PARAHHHHHH !!
    keren keren ,, merinding aku baca nyaa .. hahah .. ;)
    bnyk kata2 yg ngebuat guw bisa liat arti kehidupan ,,
    1 kata mengandung bnyk makna ..
    huueh ,,


  11. terima kasih puet ;)


  12. cy..keren deh


  13. puisi mu bening, merunduk laksana senyum Dewi Sri…
    terus berkarya, kutunggu hasilnya di dunia buku…

    salam… salut



Leave a Comment