langkah kakiku berjalan menuju sebuah ruang tunggu. aku tau aku akan bertemu siapa, namun belum pernah kutatap muka dengannya sebelumnya.
ia sudah duduk di sana. ruang tunggu dengan satu meja kaca persegi panjang dan enam kursi yang mengelilinginya. tubuhnya beranjak bangun, berdiri, dan tersenyum padaku. secepat itu, padahal jarakku masih terpaut beberapa langkah dari ambang pintu.
hebat sekali, pikirku. ia dapat merasakan kehadiranku begitu cepat.
aku menyapa, tersenyum, dan ia merasakannya. baru kali ini aku bertemu orang yang benar-benar hidup. merinding. ya sosoknya sempat membuat bulu kudukku menari.
aku tertegun sejenak menyadari kesempurnaanku. namun dalam sedetik, aku justru merasa sangat kecil. bahkan tak ada apa-apanya darinya.
tak kusia-siakan kumpulan detik yang begitu berharga itu. aku pun bertukar pikiran dengannya. berceloteh dan juga mendengarkan banyak hal. asam garam kehidupan seorang ia.
ia terbiasa sendiri. naik angkot sendiri. pergi kemana-mana sendiri. ia bahkan seperti orang biasa. ia kuliah di universitas biasa. berkomunikasi dengan telepon genggam biasa. menggunakan laptop dan mengetik dengan biasa (bahkan menurutku malah lebih cepat dari orang biasa). sama seperti kita. mungkin bedanya, laptop dan handphone sedikit ia modifikasi
sendiri untuk memudahkannya. ya sendiri, ia melakukan semuanya sendiri.
cerdas dan bersahaja. dua kata itu yang bisa kusimpulkan tentang kepribadiannya. bukan hanya sekedar pintar. ia punya sesuatu. namun pongah tak tampak sedikit pun dari raut wajah dan perilakunya.
kau tau kawan? selama tujuh tahun masa kecilnya, ia hanya tau dunia itu terdiri dari kumpulan suara saja. jangankan melihat wujud dan bentuk, sahabat kentalnya hanya hitam.
eko ramaditya adikarablogger.journalist.sound engineer.nintendo freak.music composer. and he’s a blind man.
keterbatasannya tak membuat ia berhenti berkarya. dunianya tak sekedar hitam putih. tapi justru lebih berwarna-warni dari orang normal yang bisa menelanjangi dunia bukan dengan telinga.
aku tersenyum.
menyadari betapa besar anugerah terindah dari-Nya.
aku malu.. ya jujur saja..
atau mungkin kita semua justru juga malu?
jangankan berdamai dengan kegelapan. bersahabat dengan cahaya saja kadang kita tak mampu. bergulat dengan nyata saja kadang kita mengeluh. bahkan menghindar menyerah sering menjadi pilihan. dan ia tak hanya berdamai dengan kegelapan, tapi berteman baik. bahkan berprestasi di dalamnya!
meskipun Rama tak pernah memilikinya, aku yakin ia bisa melihat. bahkan melihat lebih dari apa yang bisa mata sejati lihat. karena ia, menyentuh dunia dengan rasa.
terus berkarya Rama, hidupmu menginspirasiku!
dan mungkin juga hidup banyak orang di luar sana..
glad to be ur new friend.. God bless ur whole life!
p.s.: i recomend “The Power of Blind” to read. the book is a very simple autobiography but so powerful & inspirational (btw, he made it by him self with his own fingers!)