Archive for the ‘aksi pena’ Category
May 9, 2009
kita pernah bertemu
bertukar aksi dan celoteh
tanpa tendensi
apalagi pretensi
tapi menyimpan berjuta esensi
sejenak kau petik waktu
“hanya kita si empunya” katamu.
mereka ingin?
kau bilang tak boleh
lalu menyimpannya rapat
erat.
hingga sadar satu asa satu rasa jadi nyata
tapi mengapa tak menyatu?
malah lebur dan leleh tersebar
…

perlahan kita melukis waktu
dengan kuas usang masing-masing
membiarkanmu membiarkanku
bermain dalam ruang imaji
berlari sendiri-sendiri sambut logika
bergulir tenang tanpa riak
tapi bergejolak dalam dasar
…
kau pernah berkata
“mungkin bukan hari ini”
dan aku tak pernah lagi resah
dengan tranformasimu
“see u in the future!”
-ruangjiwa 09.05.09 11.17 pm -
Posted in aksi pena, c'est la vie | Tagged aksi, esensi, janji, logika, masa depan, ruang jiwa, sampai jumpa, tendensi, transformasi | 7 Comments »
December 4, 2008
kamu tau
aku hanya ingin kamu
dengan sederhana
tanpa harus banyak bicara
tanpa harus kau tambah dengan apa-apa
cukup satu
duduk di sampingku
dan kita tertawa tentang banyak hal
tanpa malu
tanpa ragu
buang jauh topengmu
aku tau
kau lelah bukan?
lepaskan saja sejenak jubahmu
tak perlu takut
aku tak menilaimu dari apa yang kau pakai
aku hanya ingin melihatmu
dengan sederhana
maka dari itu
kita belajar untuk berdampingan saja
tak perlu melaju lebih dulu
atau merasa kalah dariku
karena kita
ada di jalan yang sama
tertawa bercanda
bertukar cerita
dengan sederhana
itu saja..
Posted in aksi pena | Tagged bahagia, cerita, hidup, kemunafikan, kesempurnaan, lelah, nilai, sederhana, tawa, topeng | 7 Comments »
November 1, 2008
cakrawala pagi tampak lebih cerah hari ini
matahari tak seangkuh biasanya
mungkin karena rintik hujan yang sempat membasahi bumi 
aku pergi mengunjungi ruang jiwa
ingin melihat kotak khayal
dan memeriksa isinya
membuka lembaran baru bulan november
ditemani segelas cokelat panas..
berdiri di depan jendela kamar
sambil memandangi rintik hujan
yang mulai berjatuhan liar kemudian menderas
lalu meninggalkan jejak embunnya
menghirup udara pagi yang masih putih
ditemani panorama gunung yang menjulang
bersembunyi malu di antara kabut putih
lalu merasakan semilir bayunya yang mulai membeku tajam
menggambar di atas kaca yang berembun
menikmati segelas cokelat panas
yang menentramkan raga
sejenak..
mengistirahatkan logika
berdamai dengan ego
dan meneduhkan jiwa..
mengalun pelan bersama lantunan melodi rasa
menikmati setiap tetes hujan
yang menghampiri bulan November..

Posted in aksi pena | Tagged alam, blogger, cokelat, ego, embun pagi, gelas, gunung, hujan, istirahat, logika, matahari, melodi, november, panas, pedesaan, puisi, rain, rasa, ruang jiwa, welcome | 6 Comments »
September 8, 2008
aku ingin keluar dari dunia
berteriak sekuat tenaga pada ibu
“aku lelah bu, lelah sekali”, keluhku.
“kau baru berdiri di garis start, bahkan belum berlari nak” katanya sambil tersenyum.
pelupuk mataku tak mampu menahan lagi air mata
ibu tak terbiasa memelukku
katanya.. supaya aku sekuat baja
kata mereka, baja tak ada apa-apanya dariku
aku rasa mereka keliru
kapas pun lebih kuat dari atmaku
ia rapuh, terlalu rapuh bahkan
atau itu.. hanya rasaku?
aku muak dengan topeng
aku muak dengan fana
tapi kadang aku juga perlu untuk bertahan
ya.. munafik memang
seandainya aku punya sayap
agar tak usah berlari lagi
aku ingin mengunjungi nevereverland
belajar memandang dunia lewat sebuah lensa suara
agar tak ada lagi tatap
bahkan topeng pun entah untuk apa
agar tak usah berlari
tapi beriring bersama
bergerak bersama dengan canda
dengannya
denganmu
dengan cinta
dengan rasa..
hanya itu.
Posted in aksi pena | Tagged cinta, hati nurani, ibu, jiwa, kerapuhan, lelah, nevereverland, puisi, rasa, sayap, senyum | 7 Comments »
September 5, 2008
degup jantung terasa semakin kencang
memenuhi s
eluruh rongga telinga
juga ruang di kepala..
tak ada lagi yang tersisa bahkan
untuk mendengar dengung lain
langkah kaki berlari, berpacu dengan waktu
mengejar kereta yang sesak menyeruak
dipenuhi insan-insan dengan rupa entah apa
“hei, jangan masuk lagi, sudah tak ada ruang” kataku.
tapi nampaknya suaraku bak angin lewat
atau mereka yang tak mengerti bahasa manusia?
aku rasa mereka dengar namun acuh lebih baik nampaknya
mereka hanya ingin melaju
berpacu dengan waktu
ya.. sama sepertiku..
Posted in aksi pena | Tagged insan, kereta api, puisi, sesak, waktu | 6 Comments »