“Hidup untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya..” -Pak Harfan-

Menyempatkan diri di kala sang surya tengah berjaya di bentang cakrawala. Empat orang yang penuh rasa ingin tau berjalan menuju sebuah mall di pusat kota metropolitan.
Ingin melihat sebuah drama kehidupan bocah-bocah dari Belitung yang katanya mengharukan. Dengung melodi dan music scoring yang mengiringi perjalanan alur film ini sudah sempat singgah di telinga kami seminggu terakhir ini. Ya.. membuat saya tersenyum dan lebih merasakan denyut kehidupan.
Saya memang sengaja tak ingin membaca kumpulan halamannya dahulu. Ya seperti biasa, karena sejak satu tahun lalu saya tau filmnya akan digarap oleh produser, sutradara, dan penulis handal, saya tak ingin kecewa karena sudah membaca bukunya yang pastinya detil ceritanya lebih lengkap. Jadi.. selama setahun itu saya membiarkan pikiran-pikiran saya berdansa dalam ruang imaji ketika teman-teman bercoloteh tentang sepuluh bocah dari Belitung ini.
Digarap dengan sangat serius. Riri Riza, Mira Lesmana, dan Salman Alristo bukan hanya mengabadikan sebuah drama kehidupan karya Andrea Hirata dalam pita-pita kaset, namun mereka melakukan sebuah perjalanan hebat dan berhasil menata emosi penyimak film ini lewat perjalanan mereka. Banyak yang memuji film adaptasian novel ini, namun tak sedikit pula yang mencelanya habis-habisan. Tapi, mereka yang mencela itu belum tentu bisa membuat yang lebih bagus kan?
Ikal, lintang, mahar, dan laskar pelangi lainnya punya kehidupan yang tidak seberuntung kita saat kecil. Namun kesungguhan dan semangat mereka membuat hidup selalu terbuka dan mempunyai banyak jalan indah. Bercengkrama dengan alam, belajar dengan segala keterbatasan, dan bersahabat dengan keadaan. Hal-hal tersebut mungkin yang jarang kita lakukan. Atau mungkin sudah namun kita lebih berpihak pada kalah?
Peran Bu Muslimah sebagai ibu guru laskar pelangi membuatku
sempat terenyuh. Ya, seharusnya seperti itu sosok guru yang sesungguhnya, tidak termakan bujuk rayu jaman dan tetap berpihak pada hati nurani. Ia tau persis perannya. Ia sadar bahwa kaum miskin pun punya hak untuk mengenyam pendidikan yang sama dengan yang lain.
Namun laskar pelangi favorit saya justru bukan sang pemeran utama (ikal). Saya kagum dengan sosok mahar dan lintang. Sebuah sosok anak yang sangat langka pada jaman ini.
Mahar. Seorang anak yang sangat menyukai irama dan melodi. Radionya selalu setia menemani perjalanannya setiap hari. Ia tak pernah terlihat mengeluh. Meskipun keadaannya tak seberuntung anak-anak yang bersekolah di SD PN Timah, Mahar sangat menikmati hidup. Saya ingin bisa merasakan apa yang Mahar rasakan. Benar-benar menikmati setiap detik dengan senyum yang membuat hidup terasa lebih ringan tanpa keluh kesah.
Lintang. Seorang jenius alam yang sempat membuat saya menangis saat menyaksikkan perannya. Semangat belajarnya tak pernah pudar sampai ia tumbuh menjadi “seseorang”. Bahkan ia tularkan pada anaknya juga. Lintang punya karakter yang sangat kuat dalam film ini. Kemampuan otaknya melebihi laskar pelangi yang lain. Namun bukan itu poin utamanya. Ketika ia tahu ayahnya telah tiada, Lintang benar-benar menunjukkan pada kita bahwa hidup memang keras dan tetap harus kita hadapi dengan baik apapun yang terjadi.
Ya.. saya sangat mengagumi sosok lintang. Apalagi saat ia mengucapkan sederet kalimat ini pada Ikal dengan lantang.
″Hidup itu harus punya cita-cita, dan di sekolah inilah perjalanan kita mulai!″
Seperti lirik lagunya “menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga” kawan
mungkin adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
telah hilang
tanpa lelah sampai engkau meraihnya
laskar pelangi
takkan terikat waktu
bebaskan mimpimu di angkasa
raih bintang di jiwa

menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia
selamanya…
cinta kepada hidup
memberikan senyuman abadi
walau ini kadang tak adil
tapi cinta lengkapi kita
laskar pelangi
takkan terikat waktu
bebaskan mimpimu di angkasa
raih bintang di jiwa
menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia
selamanya…
-Nidji – Laskar Pelangi -