syarat mutlak

setiap malam di pertengahan sampai akhir bulan mei 2009 saya harus bergelut dengan mesin canggih bernama komputer yang selalu membantu saya mengedit tugas karya akhir demi mendapatkan gelar ahli madya di dunia penyiaran dari sebuah kampus yang katanya paling ternama di Indonesia.

sebenarnya lelah sekali karena setiap pagi saya pergi ke kantor dan setiap malam hingga pagi lagi harus bermesraan dengan software-software aneh bin ajaib lagi-lagi dengan mata mengantuk dan sisa tenaga yang untungnya masih ada.

saya jadi takjub begitu besar kekuatan seseorang untuk bekerja di bawah tekanan atau yang lebih akrab di telinga kita deadline.

ketika belum mendekati saat-saat genting rasanya malas sekali bahkan sampai tak ingin menyentuhnya namun ketika sudah tinggal sisa beberapa hari otak rasanya tak berhenti bekerja sehingga kreativitas semakin meningkat dan jari jemari semakin lihai berdansa.

deadline. hebat ya dia bisa membuat saya kamu dia mereka bertekuk lutut hingga mau merelakan jam tidur dan waktu bersenang-senang hanya demi sebuah alasan. alasan yang susah sekali kita tolak yaitu syarat. syarat mutlak.

-pesona khayangan 25.05.09 @ 01.45-

see you in the future!

rekaman masa lalukita pernah bertemu
bertukar aksi dan celoteh
tanpa tendensi
apalagi pretensi
tapi menyimpan berjuta esensi

sejenak kau petik waktu
“hanya kita si empunya” katamu.

 

mereka ingin?
kau bilang tak boleh
lalu menyimpannya rapat
erat.

hingga sadar satu asa satu rasa jadi nyata

tapi mengapa tak menyatu?
malah lebur dan leleh tersebar

sampai jumpa di masa depan

perlahan kita melukis waktu
dengan kuas usang masing-masing
membiarkanmu membiarkanku
bermain dalam ruang imaji

berlari sendiri-sendiri  sambut logika
bergulir tenang tanpa riak
tapi bergejolak dalam dasar

kau pernah berkata

“mungkin bukan hari ini”

dan aku tak pernah lagi resah
dengan tranformasimu

“see u in the future!”

-ruangjiwa 09.05.09 11.17 pm -

kotak ajaib

Setelah saya kuliah di bidang broadcasting dan bekerja di salah satu televisi swasta lokal, saya jadi enggan menonton tv. Bukan karena apa-apa, tapi sedang tak mau banyak racun saja di otak saya. Takut juga tersihir oleh acara-acaranya.
Yah, paling hanya hari minggu saja, itu juga hanya menyentuh channel-channel tertentu yang konten programnya berbobot.

*indikasi program berbobot itu apa ya sebenarnya? haha.. yah setidaknya tontonan yang bisa nambah pengetahuan setelah saya menontonya.

Belakangan ini, saya mencoba bersahabat lagi dengan kotak ajaib itu.

Hebat ya orang Indonesia..atau justru ironis?tv oh tv..
Ada acara tangis-tangisan bersama, ada acara gosipin artis bersama, ada acara nyanyi-nyanyi dan teriak-teriak bersama, sampai sejumlah sinetron merajai seluruh program televisi dan bikin ibu-ibu kita lebih demen nangkring di depan tipi ketimbang nyiapin masakan buat si bapak.

Lho..saya kan kerja di stasiun tv juga, kenapa saya seenaknya mengkritik acara tv?
Untungnya..saya tidak bekerja di stasiun tv yang memproduksi acara-acara yang saya sebutkan di atas tadi. Bukan masalah idealisme, tapi rasanya munafik saja jika saya mengkritik namun saya malah ikut mendukung acara-acara tersebut.

“Ya gimana dong, kalo nggak ngikutin trend dan selera masyarakat, mau dapet gaji darimana? Idealis sih sah-sah aja, tapi dompet kosong coy!”

Kira-kira seperti itu perkataan yang muncul dari mulut orang-orang produksi TV yang punya duit buat bikin program.

Susah ya kalau idealisme tv sudah beradu dengan uang dan selera masyarakat. Hasilnya? Jangan ditanya, bejibun program yang “aneh-aneh” bermunculan. Aneh menurut kacamata saya lho..

Terus gimana dong? Ya nggak gimana-mana. Pada dasarnya orang itu kan menonton tv untuk mencari hiburan. Cape-cape pulang dari sekolah, kampus, atau kantor kok ya disuruh nonton acara yang pake mikir?

Industri TV kita memang masih sangat tergantung dengan rating dan share, susah kalau ingin kembali ke jaman TVRI dulu. Bikin acara bagus pasti selalu ditonton, yah namanya juga cuma TV tunggal.

Akhirnya kita lagi-lagi bicara tentang pilihan. Nggak mungkin kan kita ngubah acara-acara yang udah ada? “Kecuali kita yang punya TV coy!”

Ya kalau mau nonton acara-acara yang bagus, konsisten aja dengan tontonan-tontonan itu. Jangan maki-maki acara TV yang nggak disuka tapi tetep nonton.

By the way, untungnya masih ada stasiun TV yang punya idealisme. Di tengah maraknya stasiun TV yang selalu kejar-kejaran angka rating, TV One, Metro TV, dan O Channel masih setia mendampingi pemirsanya dengan acara-acara yang bermutu namun tetap dikemas secara santai dan menarik. Terimakasih lho..

Yah,  semoga saja stasiun-stasiun TV lain bisa konsisten dengan program-program bermutunya.. Sedikit juga nggak apa-apa, asal jangan sinetron melulu aja isinya. “Kasian si bapak dicuekin gara-gara si ibu mantengin tipi terus” ;)

perihal ikhlas

Setelah mengalami banyak hal yang sempat “menguji” hidup di tahun ini, saya jadi sadar begitu banyak hal yang membutuhkan kesabaran dan keikhlasan.

Setiap hari saya mencoba mengisi lembaran putih kehidupan dengan tinta hitam yang tak terlalu pekat namun juga tak terlalu buram.
Saya sadar, tidak semua tulisan bisa dinikmati orang, tidak semua tulisan bisa enak dibaca. Untuk membuatnya bisa dinikmati banyak orang, kadang saya harus merevisi setiap lembarnya, bahkan mengulangnya dari awal. Mengganti tinta, merobek kertas, sampai kadang harus merubah gaya dan bentuk tulisan. Tidak menjadi murni lagi memang, but that’s the only way to get a good writing.

Dalam proses menulis ini saya banyak belajar. Kita hidup dalam lingkungan sosial yang penuh dengan rupa egoisme. Kadang saya berpikir “ini toh gaya saya, ya terserah orang mau suka atau tidak”. Tapi saya sadar kalau kita itu saling terkait. Kita tidak bisa hidup tanpa orang-orang di sekitar kita. Orang-orang yang tanpa kita sadari telah menopang hidup kita.

“Kasat mata, tapi ketika kehilangan, kita baru akan bersyukur bahwa kita pernah memiliki mereka.”

Banyak hal yang terjadi selama setahun ini. Kegembiraan, kesedihan, kehilangan, kelahiran, kematian, kekecewaan, kemajuan, kesuksesan, dan kehancuran. Dari mulai saling berbagi sampai tikam menikam di belakang. Dari mulai menghargai arti kejujuran sampai tak lagi peduli dengan hitam atau putih. Dari mulai merasakan sukses sampai harus jatuh bangun karena uang. Dari mulai tersenyum karena kelahiran baru sampai harus bergelut dalam duka karena sebuah kematian dan kehilangan besar. Sampai dari mulai berbunga-bunga hingga harus hancur berkeping-keping karena cinta.

Bukan hal mudah untuk merasakan transisi dari pelangi ke hitam putih. Mata kita terbiasa dengan banyak warna lalu harus dihadapkan pada hitam dan putih, kadang abu-abu. Telinga kita biasa dihadapkan dengan senandung lagu merdu lalu harus dihadapkan pada tangisan dan keluhan, kadang jeritan meronta. Mulut kita terbiasa dengan makanan enak lalu harus dihadapkan pada piring kosong, kadang juga beserta gelas kosongnya.

Perubahan, apapun itu bentuknya, mungkin bisa cepat kita terima bila isinya menyenangkan. Tapi bagaimana jika kita harus mengorbankan sesuatu demi perubahan yang tidak kita inginkan? Kehilangan besar, kesedihan mendalam, bahkan ada yang sampai frustasi, atau gila mungkin?

Saya yakin tidak semua orang itu kuat, bisa melihat semua hal dari segi positif. Menyelesaikan masalah, membenahi diri sejenak, lalu kembali menghadapi realita. Kalau semua orang bisa begitu, wah.. dunia hebat sekali punya orang-orang yang sangat besar hatinya dan lapang seluas lapangan bola.

Ikhlas. Sangat klise. Semua orang bisa bilang begitu ketika memberi saran. Tapi apa menjadi mudah ketika kita yang harus menjalaninya? Apa menjadi mudah ketika kita yang merasakannya? Merasakan hal yang membuat tenggorokan tercekat, merasakan hal yang membuat kita jatuh terpuruk, atau bahkan hal yang sempat menghentikan segala rutinitas kita. Berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan mungkin ada yang bertahun-tahun baru bisa menyelesaikan, melupakan, dan memulai lagi untuk menerima keadaan.

Saya bukan menulis untuk memberikan solusi. Hanya sekedar menyadarkan kembali saja bahwa rasa sakit itu memang ada. Nyata dan kita rasakan. Ya..begitulah dinamika rasa dalam hidup. Selalu penuh kejutan baru tanpa pernah kita tau akhirnya akan seperti apa.

Kalau saya lebih memilih untuk menghadapinya. Ya itu tadi, belajar untuk ikhlas. Mungkin saja enegi-energi positif bisa kembali merasuki jiwa dan kualitas hidup kita menjadi selangkah lebih maju. Ya susah. Siapa bilang mudah? Tapi kalau tidak mencoba, kita tak akan pernah tau bukan? Sekarang, hari ini, atau besok mungkin ada sesuatu yang baik yang memang dipersiapkan untuk kita.

Yah sekali lagi memang klise, tapi ini sudah saya jalani selama setahun kemarin (blm termasuk tahun-tahun sebelumnya ya). Makanya saya bisa bilang begitu ;)

I believe Gos always has his best plan for us. Sometimes all we need is sincerity, not surrender.

*membuka ruang jiwa yang lebih luas dan lapang memang bukan PR yang mudah, saya pun masih tergopoh-gopoh melakukannya..

Bagaimana dengan anda?

dengan sederhana

kamu tau
aku hanya ingin kamu
dengan sederhana
tanpa harus banyak bicara
tanpa harus kau tambah dengan apa-apa

cukup satu
duduk di sampingku
dan kita tertawa tentang banyak hal
tanpa malu
tanpa ragu

buang jauh topengmu
aku tau
kau lelah bukan?

lepaskan saja sejenak jubahmu
tak perlu takut
aku tak menilaimu dari apa yang kau pakai

aku hanya ingin melihatmu
dengan sederhana

maka dari itu
kita belajar untuk berdampingan saja
tak perlu melaju lebih dulu
atau merasa kalah dariku

karena kita
ada di jalan yang sama

tertawa bercanda
bertukar cerita
dengan sederhana

itu saja..

welcome november rain

cakrawala pagi tampak lebih cerah hari ini
matahari tak seangkuh biasanya
mungkin karena rintik hujan yang sempat membasahi bumi 

aku pergi mengunjungi ruang jiwa
ingin melihat kotak khayal
dan memeriksa isinya

membuka lembaran baru bulan november
ditemani segelas cokelat panas..

berdiri di depan jendela kamar
sambil memandangi rintik hujan
yang mulai berjatuhan liar kemudian menderas
lalu meninggalkan jejak embunnya

menghirup udara pagi yang masih putih
ditemani panorama gunung yang menjulang
bersembunyi malu di antara kabut putih
lalu merasakan semilir bayunya yang mulai membeku tajam

menggambar di atas kaca yang berembun
menikmati segelas cokelat panas
yang menentramkan raga

sejenak..
mengistirahatkan logika
berdamai dengan ego
dan meneduhkan jiwa..

mengalun pelan bersama lantunan melodi rasa
menikmati setiap tetes hujan
yang menghampiri bulan November..

november rain

selamat hari blogger nasional ke-2!

Tadinya gue nggak tau kalo hari ini (Senin, 27 Oktober 2008) adalah Hari Blogger Nasional ke-2.

Pesta Blogger 2008

Gue baru tau waktu dikirimin sms dari seorang teman yang bekerja di sebuah stasiun radio.
(btw, thanks for d’ info Caesar)

Lalu gue menjadi penasaran dan langsung mencarinya di Google.
Wee.. ternyata benar hari ini hari blogger nasional ke-2.
Yang pertama itu tepat setahun lalu.

Kenapa tanggal 27 Oktober?
Setelah gue baca-baca, ternyata tanggal itu asal dicetuskan aja sama Menkominfo Mohhamad Nuh waktu menghadiri Pesta Blogger 2007.
Itu adalah sebuah acara gathering blogger nasional yang diadakan di Blitz Megaplex.
Wah enak banget ya jadi mentri, bisa mencetuskan hari nasional kapan aja hehe..

Menurut Mohhamad Nuh, blogger memiliki peran dalam hal edukasi dan memberdayakan masyarakat. Ia juga berharap blogger tidak ‘malu-malu’ atau takut dalam menulis blog.

Oiya, untuk merayakannya, ada Pesta Blogger 2008 lho..

“Pesta Blogger 2008 tahun ini akan berlangsung pada hari Sabtu, 22 November 2008 di Gd. BPPT II, Jl. MH Thamrin no. 8, mulai pukul 10.00 pagi. Para peserta juga diharapkan untuk memberikan kontribusi sebesar Rp 50,000,- dan sebagai gantinya akan mendapatkan snacks, lunch box, free-flow minuman selama acara berlangsung, dan goodie bag.”

PhotoContest Pesta Blogger 2008

Hahaha..gue jadi bantuin promosi gini.
Hmm..kalo lagi ga ada acara, dateng ah..

Oiya ada Photo Contest-nya juga lho..
klik aja icon di samping ;)

Hey kalian! Yuk Ngeblog!

Bentangkan jendela dunia dengan membaca & menulis!

kelakuan para wakil rakyat

Deu..deu.deu..
Baca koran tempo pagi ini sambil nunggu kereta, eh headline-nya bikin gue geleng-geleng kepala lagi sambil tersenyum dan memicikkan alis..

“Dana BI RP 68,5 Miliar Mengalir ke Jaksa”

Duh.. kayanya duit segitu dikitt banget..
udah kemarin kasus Al Amin Nasution, kasus Miranda Gultom.. eh sekarang kasus mantan Gubernur dan Direktur Bank Indonesia.

Hmm..kayanya.. trend kasus suap ga akan pernah mati deh..
Satu suap semua suap..
Siapa bilang yang bisa latah cuma orang-orang biasa seperti kita dengan trend mode dan fashion?
Para pejabat dan wakil rakyat ngak mau kalah dong ;)

Coba deh liat data yang gue copy paste dr Tempo, edisi 6 Oktober 2008

KE MANA DUIT BI?

Uang keluar Rp 127,75 miliar
Diduga ke DPR Rp 31,5 miliar
Diduga ke kejaksaan Rp 68,5 miliar
Uang jasa pengacara Rp 16,81 miliar
Jumlah Rp 116,81 miliar
Dana yang belum ketahuan Rp 10,94 miliar

Wow.. menakjubkan bukan?
Di kala krisis ekonomi Amerika yang pastinya menyebabkan efek domino dan mengenai Indonesia juga, para wakil rakyat justru bermain dengan lembaran uang milyaran rupiah.
Yah.. katanya sih buat ongkos supaya gak ditangkep.

“Kan malu, masa pejabat Bank Indonesia ditangkep”

Itu sih belum seberapa, coba kalau dibandingkan dengan kondisi orang-orang yang masih tidur beralaskan kolong langit, rumah-rumah pinggiran yang digusur, banyaknya anak-anak yang belum mendapatkan kesempatan mencicipi bangku pendidikan..
Kelakuan para wakil rakyat ini jadi suka bikin gue nelen ludah.

Kenapa sih udah tau salah justru malah dilindungi dengan alasan “masa wakil rakyat ditangkep”?
Wong maling ayam aja ditangkep, masa orang yang ngambil duit rakyat justru malah ditolongin..

Susah memang membenahi masalah korupsi, apalagi menangani kelakuan para wakil rakyat.
Kalau sudah begini, dimana letak hati nurani? *Emangnya masih punya?
Apa perihal benar dan salah masih ada bedanya?
Apakah penjara dan hukuman bertahun-tahun hanya berlaku untuk masyarakat awam yang tak punya banyak uang untuk menyuap?

Ya..ya..ya.. sekali lagi kita hanya bisa berdemo atau hanya sekedar geleng-geleng kepala menonton atraksi mereka lewat layar televisi dan membacanya dalam lembaran halaman surat kabar setiap pagi..

memorabilia sekolah dasar

 

tak terasa satu windu telah berlalu
dua musim pun sudah bosan berganti tampaknya
menjadi saksi perjalanan kami masing-masing

aku ingin menghentikan waktu
seandainya bisa

karena celoteh dan tawa
kembali berkumpul hari ini
juga sendagurau tentang hari-hari kemarin

lucu rasanya melihatmu di masa kini
dengan raga-raga yang tak lagi kecil
dengan jiwa-jiwa yang sudah menjelma bebas

teringat kembali memori di kala itu
saat terdengar teriakan panggilan khas semasa kecil
ketika kita masih harus berbaris rapi untuk bisa masuk ruang kelas

rindu hiruk pikuk di kala bel berdentang
berlari-lari berkejaran dengan waktu
menuju makanan kantin yang sudah menunggu
atau sekedar menghabiskan bekal di kelas

bertukar canda bertukar cerita
menikmati detik-detik yang takkan sanggup kami beli

terima kasih kawan

ayo kembali merajut hidup
kelak kita pasti bertemu kembali
dalam dimensi ruang nyata yang sama

semoga..

tentang laskar pelangi

“Hidup untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya..” -Pak Harfan-

Menyempatkan diri di kala sang surya tengah berjaya di bentang cakrawala. Empat orang yang penuh rasa ingin tau berjalan menuju sebuah mall di pusat kota metropolitan.

Ingin melihat sebuah drama kehidupan bocah-bocah dari Belitung yang katanya mengharukan. Dengung melodi dan music scoring yang mengiringi perjalanan alur film ini sudah sempat singgah di telinga kami seminggu terakhir ini. Ya.. membuat saya tersenyum dan lebih merasakan denyut kehidupan.

Saya memang sengaja tak ingin membaca kumpulan halamannya dahulu. Ya seperti biasa, karena sejak satu tahun lalu saya tau filmnya akan digarap oleh produser, sutradara, dan penulis handal, saya tak ingin kecewa karena sudah membaca bukunya yang pastinya detil ceritanya lebih lengkap. Jadi.. selama setahun itu saya membiarkan pikiran-pikiran saya berdansa dalam ruang imaji ketika teman-teman bercoloteh tentang sepuluh bocah dari Belitung ini.

Digarap dengan sangat serius. Riri Riza, Mira Lesmana, dan Salman Alristo bukan hanya mengabadikan sebuah drama kehidupan karya Andrea Hirata dalam pita-pita kaset, namun mereka melakukan sebuah perjalanan hebat dan berhasil menata emosi penyimak film ini lewat perjalanan mereka. Banyak yang memuji film adaptasian novel ini, namun tak sedikit pula yang mencelanya habis-habisan. Tapi, mereka yang mencela itu belum tentu bisa membuat yang lebih bagus kan?

Ikal, lintang, mahar, dan laskar pelangi lainnya punya kehidupan yang tidak seberuntung kita saat kecil. Namun kesungguhan dan semangat mereka membuat hidup selalu terbuka dan mempunyai banyak jalan indah. Bercengkrama dengan alam, belajar dengan segala keterbatasan, dan bersahabat dengan keadaan. Hal-hal tersebut mungkin yang jarang kita lakukan. Atau mungkin sudah namun kita lebih berpihak pada kalah?

Peran Bu Muslimah sebagai ibu guru laskar pelangi membuatku sempat terenyuh. Ya, seharusnya seperti itu sosok guru yang sesungguhnya, tidak termakan bujuk rayu jaman dan tetap berpihak pada hati nurani. Ia tau persis perannya. Ia sadar bahwa kaum miskin pun punya hak untuk mengenyam pendidikan yang sama dengan yang lain.

Namun laskar pelangi favorit saya justru bukan sang pemeran utama (ikal). Saya kagum dengan sosok mahar dan lintang. Sebuah sosok anak yang sangat langka pada jaman ini.

Mahar. Seorang anak yang sangat menyukai irama dan melodi. Radionya selalu setia menemani perjalanannya setiap hari. Ia tak pernah terlihat mengeluh. Meskipun keadaannya tak seberuntung anak-anak yang bersekolah di SD PN Timah, Mahar sangat menikmati hidup. Saya ingin bisa merasakan apa yang Mahar rasakan. Benar-benar menikmati setiap detik dengan senyum yang membuat hidup terasa lebih ringan tanpa keluh kesah.

Lintang. Seorang jenius alam yang sempat membuat saya menangis saat menyaksikkan perannya. Semangat belajarnya tak pernah pudar sampai ia tumbuh menjadi “seseorang”.  Bahkan ia tularkan pada anaknya juga. Lintang punya karakter yang sangat kuat dalam film ini. Kemampuan otaknya melebihi laskar pelangi yang lain. Namun bukan itu poin utamanya. Ketika ia tahu ayahnya telah tiada, Lintang benar-benar menunjukkan pada kita bahwa hidup memang keras dan tetap harus kita hadapi dengan baik apapun yang terjadi.

Ya.. saya sangat mengagumi sosok lintang. Apalagi saat ia mengucapkan sederet kalimat ini pada Ikal dengan lantang.

″Hidup itu harus punya cita-cita, dan di sekolah inilah perjalanan kita mulai!″

Seperti lirik lagunya “menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga” kawan :)

mungkin adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
telah hilang

tanpa lelah sampai engkau meraihnya

laskar pelangi
takkan terikat waktu
bebaskan mimpimu di angkasa
raih bintang di jiwa

menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia

selamanya…

cinta kepada hidup
memberikan senyuman abadi

walau ini kadang tak adil
tapi cinta lengkapi kita

laskar pelangi
takkan terikat waktu
bebaskan mimpimu di angkasa
raih bintang di jiwa

menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia

selamanya…

-Nidji – Laskar Pelangi -

kertak.gertak.derak

tersentak
karena kertak
membelalak
karena gertak

tak mampu bergerak
hanya berdetak

serak berteriak
biarkan tergeletak
tanpa derak
hingga sesak merangkak
hingga merah tercetak

atau menunggu kerak menguak?
hingga mereka melacak
dan jiwa terhenyak
sampai retak

mereka tak kuasa menolak
bahkan mengelak
dari birokrasi yang mereka tenggak

coba tebak
apa pantas kau sebut bijak?

p.s.: untuk para pejabat dan koruptor yang suka menyentak dan berteriak sampai terasa pekak.. bahkan sesak menyelak.

berdamai dengan kegelapan

langkah kakiku berjalan menuju sebuah ruang tunggu. aku tau aku akan bertemu siapa, namun belum pernah kutatap muka dengannya sebelumnya.

ia sudah duduk di sana. ruang tunggu dengan satu meja kaca persegi panjang dan enam kursi yang mengelilinginya. tubuhnya beranjak bangun, berdiri, dan tersenyum padaku. secepat itu, padahal jarakku masih terpaut beberapa langkah dari ambang pintu.
hebat sekali, pikirku. ia dapat merasakan kehadiranku begitu cepat.

aku menyapa, tersenyum, dan ia merasakannya. baru kali ini aku bertemu orang yang benar-benar hidup. merinding. ya sosoknya sempat membuat bulu kudukku menari.

aku tertegun sejenak menyadari kesempurnaanku. namun dalam sedetik, aku justru merasa sangat kecil. bahkan tak ada apa-apanya darinya.

tak kusia-siakan kumpulan detik yang begitu berharga itu. aku pun bertukar pikiran dengannya. berceloteh dan juga mendengarkan banyak hal. asam garam kehidupan seorang ia.

ia terbiasa sendiri. naik angkot sendiri. pergi kemana-mana sendiri. ia bahkan seperti orang biasa. ia kuliah di universitas biasa. berkomunikasi dengan telepon genggam biasa. menggunakan laptop dan mengetik dengan biasa (bahkan menurutku malah lebih cepat dari orang biasa). sama seperti kita. mungkin bedanya, laptop dan handphonesendiri untuk memudahkannya.
ya sendiri, ia melakukan semuanya sendiri.
sedikit ia modifikasi

cerdas dan bersahaja. dua kata itu yang bisa kusimpulkan tentang kepribadiannya. bukan hanya sekedar pintar. ia punya sesuatu. namun pongah tak tampak sedikit pun dari raut wajah dan perilakunya.

kau tau kawan? selama tujuh tahun masa kecilnya, ia hanya tau dunia itu terdiri dari kumpulan suara saja. jangankan melihat wujud dan bentuk, sahabat kentalnya hanya hitam.

eko ramaditya adikarablogger.journalist.sound engineer.nintendo freak.music composer. and he’s a blind man.

keterbatasannya tak membuat ia berhenti berkarya. dunianya tak sekedar hitam putih. tapi justru lebih berwarna-warni dari orang normal yang bisa menelanjangi dunia bukan dengan telinga.

aku tersenyum.
menyadari betapa besar anugerah terindah dari-Nya.

aku malu.. ya jujur saja..
atau mungkin kita semua justru juga malu?

jangankan berdamai dengan kegelapan. bersahabat dengan cahaya saja kadang kita tak mampu. bergulat dengan nyata saja kadang kita mengeluh. bahkan menghindar menyerah sering menjadi pilihan. dan

ia tak hanya berdamai dengan kegelapan, tapi berteman baik.
bahkan berprestasi di dalamnya!

meskipun Rama tak pernah memilikinya, aku yakin ia bisa melihat. bahkan melihat lebih dari apa yang bisa mata sejati lihat.
karena ia.. menyentuh dunia dengan rasa.

terus berkarya Rama, hidupmu menginspirasiku!
dan mungkin juga hidup banyak orang di luar sana..

glad to be ur new friend.. God bless ur whole life!

p.s.: i recomend “The Power of Blind” to read. the book is a very simple autobiography but so powerful & inspirational (btw, he made it by him self with his own fingers!) :)

shit happens.yeah..

Aaaaaa…
Pengen hiking terus teriak sekenceng-kencengnya di atas gunung!

Yeah i know shit happens. Tapi kenapa di hari yang menyenangkan dan di bulan penuh rahmat ini???
Gila yah, bulan puasa kaya ga ada artinya sama sekali!
Damn! Fuckin’ bastard pickpocket! semoga rahmatmu berlimpah..

Masalahnya bukan berapa harga hpnya, tapi itu amanat bokap gue..
Tas baru gue yang ciamik nan keren itu juga disilet sampe ke dalem-dalem
udah kaya operasi bedah!
Gue curiga si pencopet adalah mantan dokter bedah yang dipecat lalu frustasi pindah profesi!!

Hebat! Sampai sekarang gue masih kagum dengan caranya mengambil handphone gue yang letaknya tersembunyi.. Aahh..aku terpana..

Yayayaa.. harus ngurus nomor lagi, menyebalkan..
Mana ngurus nomor XL prosedurnya ribet bgt lagi, mahal pula!
Any ideas to get my xl number with an easy and fast way?

Aduh jadi skeptis kalo naik kreta nih.. huhu..

Tapi itu akses paling cepat menuju kantor, lalu gue harus bagaimana? Nyewa helikopter pribadi?!! Yeah, i wish i could!

Kalo kata temen gue, “Jangan pernah percaya siapapun deh cy karena di kereta isinya dari orang jahat sampai orang yang lebih jahat lagi. Jadi pasang tampang judes aja ke semua orang..”

Tadinya gue sih ga nanggepin pendapatnya, tapi setelah kejadian sore tadi menuju kampus tercinta..

Yeahh.. i’m being so sceptical now..

and then maybe.. :(

hai.maaf.tolong.terimakasih.

hey.sorry.please.thank you.

There’re four easy words to write but so hard to tell sometimes..

Entahlah.. semakin banyak yang dilakukan setiap hari, kadang manusia luput mengucapkan 4 kata di atas..

Kadang gue risih kalau dalam 1 hari tidak mengucapkan 4 kata itu, mungkin karena sudah terbiasa dari kecil.

Tapi semakin bertambahnya umur, gue sadar mengucapkan 4 kata itu bukan hanya sebuah kebiasaan, tapi lebih karena apresiasi gue ke orang-orang yang gue temui setiap hari.

I think there aren’t just a short words but have magic impacts too.
Can u believe
this?
When u saw someone on street and u said ‘hey’ with a great smile, u bring out some happiness to him/her.

Tanpa sadar kita mengeluarkan energi dan aura positif ke orang-orang di sekitar kita.

A simply ”Hey..” when u meet someone in every place
A meaningful “sorry” when u did a mistake with someone

A humbly “please” when u want to ask someone to help u do something
And a perfect “thank you” when someone has helped you

Tidak terlihat namun mereka merasakan.

Kecil namun berarti.

Come on make a better world with this simply four words, of course do it with smile!
It very works!

nb: do it with smile tentunya nggak berlaku untuk kata “sorry” ya hehe.. ;)

dengannya.denganmu.hanya itu.

aku ingin keluar dari dunia
berteriak sekuat tenaga pada ibu

“aku lelah bu, lelah sekali”, keluhku.

“kau baru berdiri di garis start, bahkan belum berlari nak” katanya sambil tersenyum.

pelupuk mataku tak mampu menahan lagi air mata
ibu tak terbiasa memelukku
katanya.. supaya aku sekuat baja
kata mereka, baja tak ada apa-apanya dariku
aku rasa mereka keliru
kapas pun lebih kuat dari atmaku
ia rapuh, terlalu rapuh bahkan..

atau itu.. hanya rasaku?

aku muak dengan topeng!
aku muak dengan fana!
tapi kadang aku juga perlu untuk bertahan
ya.. munafik memang..

seandainya aku punya sayap
agar tak usah berlari lagi
aku ingin mengunjungi nevereverland
belajar memandang dunia lewat sebuah lensa suara
agar tak ada lagi tatap
bahkan topeng pun entah untuk apa
agar tak usah berlari
tapi beriringan bersama
bergerak bersama dengan canda

dengannya
denganmu
dengan cinta
dengan rasa..

hanya itu.

menapak.bergerak.melaju.

degup jantung terasa semakin kencang

memenuhi seluruh rongga telinga

juga ruang di kepala..

tak ada lagi yang tersisa bahkan

untuk mendengar dengung lain

langkah kaki berlari, berpacu dengan waktu

mengejar kereta yang sesak menyeruak

dipenuhi insan-insan dengan rupa entah apa

“hei, jangan masuk lagi, sudah tak ada ruang” kataku.

tapi nampaknya suaraku bak angin lewat

atau mereka yang tak mengerti bahasa manusia?

aku rasa mereka dengar namun acuh lebih baik nampaknya

mereka hanya ingin melaju

berpacu dengan waktu

ya.. sama sepertiku..

kemunafikan nurani

Beberapa terakhir ini gue memperhatikan perilaku orang-orang di sekitar gue, kok kerasa ada yang beda ya?

Ada sebuah kemunafikan nurani di sana…
atau gue aja yang terlalu sensitif?

Nggak juga ah, ada kok beberapa temen gue yang juga ngrasain hal ini..

Kata bunda, menganalisis orang sudah gue lakukan sejak kecil, tapi yang sekarang gue rasain ini beda, rasanya muak… yaa.. just lil bit sih..

Tapi tetep aja, I really hate fake people.
Kalo gue perhatiin.. kok makin banyak orang yang jadi pengekor ya? Rela ngelakuin apa aja, rela ngikutin kemana aja, rela ngorbanin kejujurannya..

makes a drama in their life & do all d fake things

Ini bukan sudut pandang gue secara subjektif, analisis ini timbul karena gue membandingkan sifat beberapa orang yang dulu dengan yang sekarang…

Kalo alasan klisenya sih “hei, it’s life!”

Iya juga sih, bakal banyak yang berubah, energi-energi positif makin lama makin menyusut dari jiwa manusia..

Tapi gue ga rela kalo semua itu terjadi sama orang-orang di sekitar gue..

Kekuasaan, harta, pengaruh yang besar, bahkan cinta kadang menjadi alasan yang membuat semua itu terjadi…

Gue adalah orang yang independen, tapi bukan berarti orang-orang di sekitar gue menjadi tidak penting, they’re my life..

Tapi di satu sisi, gue lebih menghargai orang yang berjalan di sebelah gue, bukan di depan atau belakang gue..

Cos we’re FRIEND..

Orang yang bukan hanya mau bercerita dan mengeluh, tapi juga mau mendengarkan..

Dan intinya, yah nggak palsu, no pretenders…

Susah sih nyari orang yang kayak gitu, tapi gue bersyukur di dalam hidup gue masih ada mereka yang nggak pake topeng, tapi tetep aja langka…

I love & appreciate them. No. I mean. I really. :)

.another first.another new.

first day on September..

first day on fasting month..

first work day in one of station TV in Jakarta..

first day believe to create a blog again..

it’s just another first day of my life..

new paper on my books..

new line on my paragraphs..

new chapter of my life..

it’s just my another new beginning..